PPDB 2027/2028 Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang Utama Telah Dibuka!

Sikap Toleransi, Moderasi, dan Literasi: Upaya Menjaga Integrasi Keberagaman di Era Disrupsi Teknologi

30 Agustus 2021 smamuhi 2070 Kali Dilihat 0 Komentar

oleh, Arifatunnisa Fachryana Puspitasari

 

Indonesia adalah salah satu negara yang tinggi akan keberagaman dan kebhinekaan.  Dalam KBBI, keberagaman adalah berbagai perbedaan yang melekat pada manusia, seperti etnos, jenis kelamin, identitas gender, orientasi seksual, usia, kelas sosial, abilitas/disabilitas, nilai-nilai agama atau etika, dan asal kebangsaan. Sedangkan kebhinekaan berasal dari kata bineka yang artinya beragam atau beraneka ragam. Di Indonesia, keberagaman yang paling umum dirasakan ialah keberagaman dalam hal suku, agama, ras, dan budaya. Keberagaman dapat dijadikan sebagai kekayaan bangsa, tetapi tidak dapat dibohongi keberagaman juga dapat menjadi cikal bakal terjadinya perpecahan dalam suatu negara. Perpecahan akibat keberagaman dan kebhinekaan dapat kita hindari dengan berbagai cara seperti sikap toleransi, moderasi, dan literasi.

Keberagaman dapat dirasakan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Namun, sebagai seorang pelajar, keberagaman  sangat dirasakan di lingkungan sekolah. Bagi para siswa dari sekolah yang berisikan siswa heterogen yakni berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia, tentu mereka merasakan keberagaman yang sangat kental, dimulai dari keberagaman dari segi latar belakang keluarga, adat, logat, dan budaya yang berbeda membuat mereka mau tidak mau beradaptasi dan menghargai satu sama lain. Di sekolah, kita juga secara tidak langsung “diminta” untuk berteman dengan siapa pun, tanpa mementingkan unsur budaya maupun latar belakang kita masing-masing.  Sikap yang patut dimiliki setiap warga negara yang multibudaya seperti indonesia adalah jiwa toleransi yang tinggi sejak dini.

Sekolah dengan siswa yang heterogen juga melatih kita sebagai siswa untuk mengenal sikap toleransi secara langsung. Merasakan keberagaman itu sendiri secara tidak langsung mendidik orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk bisa menghargai dan menerima setiap perbedaan satu sama lain. Pribadi yang toleran bukan hanya sekadar bentuk pengakuan tetapi juga sikap nyata yang dituang ke dalam kehidupan sehari-hari.

Selain sikap toleransi yang dapat menghindari perpecahan akibat kesenjangan rasa menghargai, moderasi juga sikap yang dapat mencegah pepercahan akibat kekstriman pada suatu hal. Moderasi dalam beragama dan kebhinekaan patut dilakukan untuk mencegah perpecahan akibat keberagaman. Pengertian moderasi dalam KBBI adalah pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Moderasi memiliki arti yang berlawanan dengan keekstreman atau berlebihan dalam menyikapi perbedaan dan keragaman. Bersikap moderat berarti mencoba untuk berada di tengah-tengah dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman dengan sikap toleransi dan saling menghargai tetapi tetap pada keyakinannya masing-masing (Akhmadi, 2019). Maka dari itu, kita dapat melihat betapa besar dan pentingnya pengaruh moderasi dalam beragama dan kebhinekaan. Contoh moderasi yang dapat diterapkan tidak hanya sikap toleransi tetapi juga bisa menerima dan bermanfaat satu sama lain. Di sekolah, moderasi terlihat ketika siswa tidak menjadikan agama ataupun budaya sebagai dinding pembatas dalam bergaul, bisa menerima perbedaan yang dimiliki siswa lain, serta bisa menempatkan diri di tengah keberagaman.

Namun tidak hanya itu, pengetahuan dan pendidikan juga memberi pengaruh besar terhadap karakter seseorang. Literasi bisa menjadi salah satu upaya dalam membentuk karakter pribadi seseorang menjadi pribadi yang toleran di tengah keberagaman. Menurut KBBI, pengertian literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Melalui media literasi, seseorang dapat memperluas dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Individu yang luas akan wawasan dan ilmu pengetahuan dipercaya memiliki pemikiran yang lebih terbuka dibandingkan seseorang yang sempit akan wawasan. Saat ini, sumber literasi sangat mudah ditemukan seperti di media-media digital karena sumber literasi saat ini didukung oleh teknologi yang semakin maju dan berkembang hingga sekarang.     Namun, sekarang ini banyak informasi-informasi bohong atau tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, yang sering disebut dengan hoaks. Beberapa masyarakat tidak sadar telah menggunakan informasi hoaks sebagai sumber literasi mereka. Di era digitalisasi saat ini, terjadi disrupsi teknologi. Dalam KBBI, disrupsi adalah  interupsi (pemotongan/penyelaan) pada proses atau kegiatan yang telah berlangsung secara berkesinambungan, sedangkan pengertian disrupsi teknologi adalah perkembangan teknologi yang perkembangannya sangat cepat (Pamungkas, 2020). Disrupsi teknologi memberikan dampak negatif dan positif, dampak positif dari disrupsi teknologi antara lain memudahkan kita dalam mendapatkan informasi, komunikasi jarak jauh, dan manfaat lainnya yang kita dapat dari penggunaan teknologi. Namun yang menjadi perhatian banyak orang saat ini adalah dampak negatif dari disrupsi teknologi karena dapat membahayakan kita sebagai pengguna teknologi. Maraknya berita hoaks adalah salah satu dampak negatif disrupsi teknologi yang akhir-akhir ini sedang terjadi. Pornografi, penipuan, dan cyber bullying juga merupakan bentuk negatif lainnya.

Di saat pandemi ini, internet sering dijadikan sumber belajar bagi para siswa, tetapi di sisi lain dampak negatif disrupsi teknologi menghantui mereka. Pihak guru maupun orang tua tentunya tidak ingin dampak negatif dari penggunaan teknologi dirasakan oleh para siswa. Sub Koordinator Perancangan Literasi Digital menyampaikan bahwa untuk menanggapi fenomena disrupsi teknologi ini alangkah baiknya kita lakukan literasi digital baik untuk para siswa, guru maupun orang tua. Bagi para siswa yang aktif dalam menggunakan internet, tentunya mereka harus mengetahui bahaya yang dapat terjadi dalam menggunakan internet (Direktorat Sekolah Dasar, 2021). Dengan mengetahui bahayayang dapat terjadi di internet, diharapkan para siswa dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan internet sehingga dapat mencegah mereka dari dampak negatif disrupsi teknologi.

Meskipun dampak negatif dari disrupsi teknologi dan perpecahan akibat toleransi datang tanpa kita inginkan, tetapi hal tersebut dapat kita hindari dan kita atasi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, moderasi, dan literasi. Kita sebagai anak bangsa multibudaya harus menjunjung tinggi nilai persatuan, kesatuan dan budaya literasi demi Indonesia bangkit.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi, A. (2019). Moderasi Beragama Dalam Keragaman Indonesia Religious Moderation In Indonesia’s Diversity. Jurnal Diklat Keagamaan, 13(2), 48. Retrieved Agustus 29, 2021, from https://bdksurabaya.e-journal.id/bdksurabaya/article/download/82/45

Direktorat Sekolah Dasar. (2021, Maret 22). Kenalkan Disrupsi Teknologi Digital pada Anak Sejak Dini. Retrieved Agustus 29, 2021, from Direktorat Sekolah Dasar: http://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/kenalkan-disrupsi-teknologi-digital-pada-anak-sejak-dini

Pamungkas, B. R. (2020, Desember 1). Pendidikan di Ers. 1. doi:10.31219/osf.io/hnjra

Tags: smamuhi
Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar