Pendekatan terhadap Perbedaan dan Kesadaran Adanya Keindahan di Balik Keragaman
oleh, Syafira Ayu Az Zahra
Indonesia negara multikultural. Multikultural berasal dari kata multi (plural) berarti beragam dan kultural berarti budaya. Jadi arti multikultural adalah masyarakat yang memiliki banyak kebudayaan. Multikultural mencakup banyak hal seperti suku, agama, ras, agama, dan lainnya. Mengapa Indonesia mengalami hal ini? Karena letaknya strategis di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta Benua Asia dan Benua Australia, menjadikan Indonesia jalur dan transit perdagangan internasional sehingga terjadi akulturasi budaya dan ras beragam. Selain itu, kondisi negara kepulauan menambah kekayaan Indonesia.
Sebagai negara multikultural, Indonesia rentan mengalami perpecahan. Salah satu cara mengatasinya yaitu menghayati semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan ini berasal dari bahasa Sansekerta zaman Kerajaan Majapahit yang saat itu terjadi keberagaman beragama. Perbedaan menjadi ciri khas Indonesia untuk mempertahankan persatuan di tengah keberagaman.
Keberagaman indah, menjadikan kita melihat hal baru. Keberagaman sumber kekuatan karena memiliki kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun, masyarakat Indonesia belum begitu mengenal kebudayaannya. Ini dibuktikan Yekti Kusmartono perwakilan Indonesia Heritage Society, "Warga asing ingin tahu lebih tentang budaya Indonesia. Mereka sangat antusias karena kebudayaan Indonesia unik dan menarik. Malah pernah warga asing bertanya ke orang Indonesia tentang budaya tetapi tidak bisa menjawab, itu sedih,” (Kusmiyati, 2014).
Terbiasa dengan kebudayaan Indonesia, persepsi anak muda menganggap kuno karena dari zaman dahulu. Kemudian majunya zaman, kita mengenal kebudayaan Korea. “Korea unik dengan kebudayaannya tidak ada di Indonesia sehingga kagum. Semisal di sini ada, sudah pasti sangat menyukainya,” kata Astari, pelajar SMA penggemar Korea. Hal baru akan terasa mengagumkan ketika tidak ada di Indoenesia. Bila memiliki kebudayaan sama dengan Korea, belum tentu masih mengaguminya.
Masyarakat Korea mencintai kebudayaannya hingga terkenal di kancah internasional, Indonesia bisa mencontohnya sehingga dikenal berbagai negara karena memiliki kebudayaan bukan sekadar budaya kuno membosankan tetapi banyak tradisi yang belum diketahui karena tertimbun waktu serta terputusya generasi penerus. Kita bisa menganggap budaya di Jawa kuno karena terbiasa, tapi bagaimana dengan luar jawa yang belum terjamah teknologi? Besar kemungkinan takjub melihat kearifan lokalnya. Ini menjadi bukti Indonesia negara kaya.
Kadang kita menganggap remeh budaya, cenderung mengabaikannya. Namun, saat budaya Indonesia diakui negara lain ikut merasakan sedih bukan. Rasa sedih itu tidak permanen, saat isu mereda akan kembali mengacuhkannya. Sebaliknya, saat Candi Prambanan dan Taman Nasional Komodo diakui UNESCO rasa bangga turut menyelimuti. Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki hasrat mencintai keragaman tetapi terhalang oleh maraknya budaya asing.
Indonesia juga erat dengan keberagaman beragama. Terdapat lebih dari 150 agama lokal tetapi, hanya ada enam agama resmi yang diakui pemerintah. Menurut Menag Lukman Hakim, syarat agama baru harus ada kitab suci, sistem peribadatan dan keyakinan yang baku karena pemerintah bertanggung jawab memberi pelayanan tiap agama. Bagi penganut agama lokal, tetap mendapat perlindungan beragama sesuai Pasal 29 ayat (1) UUD 1945, "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu." Pasal tersebut bukan menunjukkan Indonesia negara agama, tapi memberi pengertian Indonesia adalah negara beragama.
Indonesia termasuk negara yang menjunjung tinggi toleransi. Dibuktikan oleh Mr. Cho, peserta acara Global Peace Youth Interfaith Assembly 2017, "Saya sangat kagum dengan warga Indonesia. Saya tidak mengerti bagaimana cara mereka sembahyang dan mempercayai ajaran yang berbeda, tetapi tetap bisa menghargai satu yang lainnya. Saya kira itu akan sulit. Tetapi ternyata tidak untuk masyarakat Indonesia,” (Agatha Olivia, 2017). Hal ini harus dipertahankan.
“Tidak peduli apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu," kata Gus Dur. Perbedaan agama seharusnya tidak menjadi masalah besar dalam konteks bermasyarakat karena dihadapan negara semua mempunyai hak asasi sama sedangkan agama adalah hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhannya. Sejak awal Indonesia berdiri, dirumuskan dasar negara Pancasila sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa," berarti semua agama di Indonesia setara tidak ada penekanan bahwa Indonesia menganut agama tertentu.
Gero, reporter di Jerman yang sering ke Indonesia, "Indonesia merupakan negara yang sangat toleran, memiliki kaum Muslim yang sangat moderat dan modern dalam hal hubungan antar agama,” (Yusuf Gandang, 2019). Dari sini mengenal kata moderat, moderasi. Menurut KBBI, moderasi berarti pengurangan kekerasan, penghindaran keeskstreman. Dilihat secara lebih luas, sikap kesetaraan memperlakukan manusia. Gus Dur juga berkata bahwa, jika memusuhi orang lain karena berbeda agama, berarti yang dipertuhankan agama, bukan Tuhan karena pemeluk agama percaya Tuhan Maha Besar tanpa membuat orang lain mengikuti agama kita.
Di Desa Sunggingsari, Parakan, Temanggung, ada satu keluarga Kristen rumahnya bersebelahan dengan mushola. Mereka tidak merasa terganggu, dibuktikan dengan tiap minggu pergi ke gereja dan bertegur sapa dengan sekitarnya. Waktu lebaran, keluarga mereka menyediakan kue dan saat natal, umat muslim tidak mengganggunya.
Di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta misalnya, sangat dekat dengan pluralisme karena siswanya tersebar dari seluruh nusantara. Dalam satu kelas kita menjadi saling mengenal, mereka dengan bangga menceritakan keragaman di daerahnya. Kita memang berasal dari pulau berbeda tetapi tujuannya sama, yaitu menuntut ilmu. Sama dengan Indonesia, walaupun banyak perbedaan tetapi semua memiliki tujuan yang sama, yaitu persatuan Indonesia tetap terjaga.
Sejak awal pandemi Covid-19, pembelajaran di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dilaksanakan secara daring, bila ada tugas kelompok terjadi perbedaan pendapat menentukan waktu diskusi karena ada yang WIB, WITA, juga WIT. Dari perbedaan kecil ini, kita mencari jalan tengah sehingga tidak terjadi masalah antar anggota.
Pandemi Covid-19 juga mengharuskan bersosialisasi secara virtual. Medsos berperan penting dan berdampak positif bila menggunakannya dengan bijak. Telegram misalnya, di dalamnya terdapat grup-grup bermanfaat seperti pejuang PTN, informasi seputar SNMPTN, SBMPTN, dan lainnya. Namun, semakin berkembangnya teknologi juga terjadi disrupsi. Berdasarkan KBBI, disrupsi berarti hal yang tercabut dari akarnya. Berkembangnya informasi hoaks menjadi contoh disrupsi teknologi. Peran pelajar sangat penting karena dianggap sebagai sosok yang lebih mengetahui informasi terkini. Langkah pertama untuk menghadapi hoaks yaitu mencari informasi yang benar dan tidak termakan kata orang. Bila sudah mengetahui kebenarannya maka dipertanyakan, apakah informasi tersebut berguna atau tidak. Bila bermanfaat, sebaiknya kita bagikan dan jika tidak, maka cukup disimpan diri sendiri.
Daftar Pustaka
Kusmiyati. 2014. Ini Alasan Orang Asing Tertarik Budaya Indonesia.
https://m.liputan6.com/ (diakses pada tanggal 28 Agustus 2021 pukul 13.10)
Nugraha, Jevi. 2020. 30 Kata-Kata Bijak Gus Dur Tentang Toleransi Penuh Makna
dan Inspiratif. https://m.merdeka.com/jateng (diakses pada tanggal 28 Agustus 2021 pukul 15.30)
Pamuncak, Yusuf Gandang. 2019. Warga Jerman Imbau Indonesia Jaga
Keragaman Dalam Persatuan. https://amp-dw-com. (diakses pada tanggal 28 Agustus 2021 pukul 16.00)
Victoria, Agatha Olivia. 2017. Warga Asing Kagum dengan Toleransi Umat
Beragama di Indonesia. https://www-goodnewsfromindonesia-id. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2021 pukul 22.00)