PPDB 2027/2028 Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang Utama Telah Dibuka!

11 Guru SMA Muhi Ikuti Bootcamp Regional Pembinaan Karakter SUGT 2026

18 Oktober 2026 Naufal Amiru Rokhim 9 Kali Dilihat 0 Komentar

Sebanyak 11 guru SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi) mengikuti kegiatan Regional Yogyakarta Pembinaan Karakter (Bootcamp Regional) SUGT 2026 yang diselenggarakan pada 17–19 Oktober 2026 di SMA Islam Al-Azhar 9 Yogyakarta, Sleman. Keikutsertaan para guru ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidik, khususnya dalam memperkuat karakter, integritas, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta kepemimpinan di lingkungan sekolah. Sebelas guru yang ditugaskan mengikuti kegiatan tersebut adalah Marini Amalia Okvianti, S.Si., M.Pd., Marsuni, S.Pd., M. Aziz Angga Pratama, M.Sc.Gr., Tri Hari Nurdi, M.Pd.Gr., Ismalik Perwira Admadja, S.T., M.Pd.Gr., Indra Budi Setiawan, M.Pd.Gr., Khairunisa Aulia Lutfi, S.Pd.Gr., Naufal Amiru Rokhim, S.Pd., Ria Fitriyani Hadi, M.Pd.Gr., Adam Al Hakim, M.Pd.Gr., dan Puspita Eidelwaiz Tiarani, S.Pd.Gr. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memperoleh wawasan dan pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, pengelolaan kelas, serta pendampingan karakter murid. Partisipasi tersebut sekaligus menjadi langkah strategis SMA Muhi dalam mendorong pengembangan profesional guru agar mampu menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan pribadi yang berintegritas dan bertanggung jawab.

Berdasarkan rundown kegiatan, bootcamp ini menghadirkan sejumlah materi yang berfokus pada penguatan kompetensi profesional dan karakter pendidik. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, kegiatan diawali dengan kedatangan dan registrasi peserta pukul 08.30–09.00 WIB, dilanjutkan Course 2 pada pukul 09.00–12.00 WIB bertema “Resilient & Adaptive School Professionals: Grit, Growth & Agility for the Future of Education”. Materi ini menekankan pentingnya ketangguhan, pola pikir bertumbuh, dan kelincahan dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan. Guru dituntut untuk terus belajar, tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, serta mampu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan murid dan perkembangan zaman. Setelah istirahat dan makan siang pukul 12.00–13.00 WIB, peserta mengikuti Course 3 pada pukul 13.00–16.00 WIB bertema “Professional Integrity & Self-Discipline: Values, Purpose & Responsibility in Education”. Materi ini menggarisbawahi pentingnya integritas profesional, disiplin diri, kejelasan tujuan, serta tanggung jawab pendidik dalam menjalankan tugas. Pada Minggu, 18 Oktober 2026, peserta kembali mengikuti rangkaian kegiatan setelah registrasi pukul 08.30–09.00 WIB. Course 4 berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB dengan tema “Excellence in Action: Leading for Creative Thinking & Innovation”, yang membahas pentingnya kepemimpinan dalam mendorong kreativitas dan inovasi. Materi tersebut relevan bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik, inovatif, dan mampu merangsang kemampuan berpikir kritis murid.

Rangkaian pelatihan pada hari kedua dilanjutkan dengan Course 5 pukul 13.00–16.00 WIB bertema “Trust to Impact: Building a Collaborative School Community for a Culture of Excellence”. Materi ini menekankan pembangunan kepercayaan dan kolaborasi di lingkungan sekolah untuk menciptakan budaya mutu yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi, guru diharapkan mampu memperkuat komunikasi dengan sesama pendidik, pimpinan sekolah, murid, dan orang tua sehingga tercipta lingkungan belajar yang saling mendukung. Setelah seluruh materi selesai, kegiatan pada Senin, 19 Oktober 2026, dijadwalkan untuk sarapan pukul 06.00–09.00 WIB, persiapan check-out peserta luar Yogyakarta pukul 09.00–12.00 WIB, serta check-out dan kepulangan mulai pukul 12.00 WIB. Keikutsertaan 11 guru SMA Muhi dalam bootcamp ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah, mulai dari penguatan karakter pendidik, penerapan inovasi pembelajaran, hingga terciptanya budaya kerja yang disiplin dan kolaboratif. Bekal yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kompetensi individu, tetapi juga dibagikan kepada rekan guru lainnya dan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, pengembangan profesional pendidik dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun lingkungan sekolah yang unggul, adaptif, serta mampu menyiapkan murid menghadapi tantangan masa depan. Yus

Tags:
Dipost Oleh

Naufal Amiru Rokhim

Naufal Amiru Rokhim

Tinggalkan Komentar