headerphoto

headerphoto

Kepemimpinan Partisipatif

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengimplementasian kepemimpinan partisipatif Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Kepala SMA 4 Yogyakarta. Dalam hal ini difokuskan pada fungsi-fungsi kepemimpinan yang diperankan oleh Kepala Sekolah, yang meluputi pengambilan keputusan, saluran komunikasi, pengembangan dan pemberdayaan guru, dan pemberian penghargaan dan sanksi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran metode penelitian kuantitatif dan kualitatif (mixed method approach). Subjek penelitian adalah Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Kepala SMA 4 Yogykarta tahun 2006/2007.

Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan angket, sedangkan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Angket ditujukan kepada semua guru di bawah kepemimpinan subjek penelitian. Dalam hal ini tidak dilakukan penyampelan. Data kuantitatif hasil angket dianalisis dengan melakukan pensekoran, tabulasi, rerata, dan pemberian predikat secara kualitatif. Selanjutnya, dilakukan penjaringan data dengan metode kualitatif. Temuan ini digunakan untuk menjelaskan temuan data kuantitatif. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi sumber data dan metode pengumpulan data. Teknik analisis data kualitatif menggunakan model Milles dan Huberman, yang meliputi empat langkah, yaitu : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengimplementasian kepemimpinan partisipatif Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Kepala SMA 4 Yogyakarta termasuk kategori baik dengan rerata skor 121,61 dan 113,40. Pengimplementasian kepemimpinan partisipatif menunjukkan bahwa : 1) Dalam hal pengambilan keputusan, kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta termasuk kategori baik dengan rerata skor 28,80. Dalam praktiknya cenderung mengutamakan pemberdayaan bawahan dalam penyelesaian tugas. Sementara itu, Kepala SMA 4 Yogyakarta juga termasuk kategori baik dengan rerata skor 26,52, tetapi lebih mengutamakan prosedur birokratik. Rapat-rapat yang dilakukan digunakan untuk menegaskan garis koordinasi dengan bawahan. 2) Dalam hal alur komunikasi dan saluran komunikasi, Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta termasuk kategori baik dengan rerata skor 29,57. Kepala Sekolah sudah mengondisikan alur komunikasi multiarah dan saluran komunikasinya variatif. Sementara itu, kepala SMA 4 Yogyakarta lebih mengutamakan saluran komunikasi lewat brifing sehingga alur komunikasinya cenderung searah. Capaian rerata skornya adalah 33,49 sehingga termasuk kategori baik. 3).Dalam hal pengembangan dan pemberdayaan guru termasuk kategori baik. Rerata skornya 34,28 untuk Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan 33,49 untuk Kepala SMA 4 Yogyakarta. 4) Dalam hal pemberian penghargaan dan sanksi, kedua kepala sekolah belum melakukan secara optimal karena prosedur yang baku untuk itu tidak tersedia. Meskipun demikian, dalam hal ini Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta termasuk kategori baik dengan rerata skor 28,96, sedangkan Kepala SMA 4 Yogyakarta hanya termasuk kategori cukup dengan rereta skor 24,51.